Ideologi Islam: Fikroh, Toriqoh, dan Platform Bisnis Syariah 💡

Itu adalah peraturan kehidupan dan ini, Pak, yang dinamakan ideologi. Sehingga kalau kita gambarkan, itu ada dua, Pak. Jadi ideologi itu terdiri dari Fikro dan yang kedua adalah Toriqoh. Fikro itu adalah pemikiran mendasarnya, yaitu akidah, akidahnya ini tadi. Dan Toriqoh itu adalah metode penerapannya. Kita sudah punya fikroh yang lengkap, pemikiran yang lengkap di dalam sistem yang enak itu tadi, yang antara hubungan manusia dengan manusia lainnya itu hanya berupa mikroh. Kalau belum diterapkan, maka kita perlu cara, perlu metode bagaimana penerapannya.

Contoh tadi, apa yang lagi viral saat ini? Kasus apa? Kasus penganiayaan seorang yang terang-terangan, Pak. Tidak ini siap dengan COVID-19 yang menjadi Bandung. Dia masuk apa? Catnya selama berapa tahun? Dua tahun pengakuannya. Jadi buat menunjukkan bahwa bagaimana ketika sistem sosial itu diatur dengan sistem sekularisme, sistem kapitalisme yang berasas kepada kebebasan individu. Kan asas dari mereka sistem kapitalisme ini kan kebebasan individu. Kalau individunya bahagia, individunya senang, itu tidak boleh diganggu, kan, seperti itu.

Nah, di dalam Islam kan sudah jelas bagaimana Islam itu dalam mitranya itu melarang perbuatan zina. Tujuannya apa? Tujuannya untuk menjaga keturunan. Jadi nanti seluruh syariat Islam itu ada maqoshidussyar'i-nya, ada tujuan-tujuan kenapa syariat Islam itu diterapkan. Yang pertama untuk menjaga agama, yang kedua untuk menjaga jiwa, yang ketiga menjaga kehormatan, yang keempat menjaga keturunan, yang kelima menjaga akal, dan yang terakhir menjaga harta. Itu tujuan kenapa syariat Islam itu harus diterapkan. Kalau itu semua terjaga, manusia akan stabil, manusia akan tertata, manusia akan damai, tidak ada perselisihan di antara manusia.

Nah, terkait Islam mengatur bagaimana zina...

Itu adalah metode yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Bagaimana Rasulullah mencontohkan metode itu? Agar seluruh syariat Islam itu bisa diamalkan, agar seluruh syariat Islam itu bisa diterapkan di tengah-tengah umat. Inilah yang harusnya yang kita jadikan pegangan di dalam kehidupan kita, yaitu akidah. Akidah yang bukan berdasarkan perasaan, tapi juga berdasarkan pemikiran.

Nah, bagaimana metodenya? Jangan ke mana-mana, insya Allah kita lanjutkan setelah kopi break. Saya kembalikan kepada...

Hai, kita pengin mempunyai sebuah platform. Sarananya aja, pasang platform itu berinci. Jadi, bagaimana kalau teman-teman yang mempunyai semangat menjalankan bisnisnya secara Islami, apapun itu—restoran, coffee shop, rental, konsultan—ini dijadikan satu?

Mulai platform itu. Jadi di platform itu, entah mobile app atau website, nanti dia misalnya menawarkan, "Saya punya rumah syariah, saya punya rental ini, punya ini, segala macam," dan bisnisnya dari situ. Nah, usernya orang lain, masuk di platform itu juga pasti punya semangat, "Saya mau kerja sama dengan pengusaha yang menjalankan syariah nih, enggak ada dendam, enggak ada bunga, enggak ada apa segala macam." Jadi, ketemu di situ antara penyedia sama user. Kayak gitu secara sebesarnya seperti itu, Mas. Sebesarnya.

Nah, sekarang pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa memverifikasi usahanya dia sesuai dengan syariah? Bagaimana kita bisa memverifikasi user-user itu memang tujuannya adalah syariah juga, begitu kan? Tanpa ada markup, profit, apa segala macam. Begitu kan?

Sudah mulai di website atau di mobile app? Semua, semua. Tapi basic-nya main di front-end, back-end, atau integrasi semua deh. Oke, kontrak saya marketing, main integrasi, main. Saya masih, saya tahu UX, front-end, back-end, integrasi, firewall. Saya ketemu karena Adiano 6 bulan di Silicon Valley. Kalau mandiri kan nyari vendor, kan? Jadi mereka sebagai vendor. Iya, karena kita nyari sampai jadi. Kita beli-beli brand-nya dari selingan value, cara-cara mandiri dulu nyari murah. Ya, kita beli brand-nya, nah, buat labeling. Terus kemudian kita beli aplikasinya, tapi kita developer-nya ke India. Saya lama juga di Nioh itu kan. Kalau India lebih murah bayarannya. Iya dong, karena kita beli produknya. Ini batik kayak gini, ibadah kayak gini nih, murah. Ya gini, antum beli mobil Toyota nih, Bro. Bodinya Lexus, tetap ya, anggaplah subjek sepatu, bodinya Pajero, mesinnya VGR. Beli aja gitu. Tapi sampai di Indonesia, oprek nih. Tipnya ganti, banyak ganti, segala macam. Tapi secara merek apa aja ya bicaranya? Bang Mandiri dulu nyari beli-beli barang bagus. Jadi habis oprek ya. Karena kalau kita beli satu itu mahal. Bukan pajak, Pak. Itu yang mahal. Bukan beli satuannya, tapi recurring cost-nya. Tuh, saya tahu tuh, Pak. Recurring cost-nya tuh gila. Nah, gimana cara kita dapat recurring cost yang murah? Gue pakai developer-nya India, dan gue enggak beli di sana, Pak. Gue datangkan orang India ke Indonesia. Dan India itu satu-satunya negara yang warga negaranya kalau didatangkan ke negara lain, boleh hire pakai mata uang negara tersebut, lokal. Harus US Dollar. Kalau antum hire IT-nya Amerika, segala macam, US Dollar. Dan itu hanya adalah per hour, ya kan? Jauh, jam per jam. Tadi kalau India hari, dan kita gemperin dia itu sampai malam. "Kodoh amat, Bapak." Aca-aca aja, geleng-geleng-geleng-geleng sama orang India. "What do you think?" Iya, iya. Jadi waktu itu kami tuh 2014 ke Silicon Valley dulu, 6 bulan presentasi kan ke beberapa perusahaan. Perasaan, eh, ya itu kita cari, compare sama fiturnya mereka apa, terus kemudian harganya berapa. Ini kan? Nah, dapat saya beli tuh. Kita beli brand-nya, kita beli aplikasinya. Tapi kan itu aplikasi itu kan palingan kita ambil tuh UI/UX-nya, ya kan? Aku tahu UX, user experience. Kalau saya kan bukan orang IT juga, sama lebih karena marketing. Tapi yang saya marketing yang intinya tahu juga ceritanya gitu kan. Kalau misalnya kita memang jadi yang tadi user-nya kira-kira siapa kita? Sebenarnya gini, memang apa? Sebenarnya kan sebuah aplikasi itu kan yang user-nya berapa kan? Ya, kita kalau mengiklankan itu pasti mahal. Ya sudah, pakai pakai materi marketing yang zaman dulu. Marketing mau tahu mulut aja. Jadi kita berdayakan internal di kita gitu kan. Nah, sebenarnya kita lama tuh ya, kayak modelnya kayak inilah, model kayak influencer zaman sekarang aja, nge-boost, nge-boost, nge-boost. Ya, pakai akun-akun fake gitu ya. Nge-boost, nge-boost, nge-boost. Lama-lama itu kan akan naik seperti itu. Nanti terlalu kembangannya nih, kalau misalnya kira-kira dalam sampai 6 bulan tidak ada gerakan yang signifikan, ya Bapak juga kita bayar iklan gitu kan, segala macam. Itu terdeteksi usahanya itu apa? Sehingga ketika teman-teman yang mau support nih usaha, teman-teman bisa pakai ini aja. "Oh, ini sih Anggun bikin ini," jadi berupa tingkat. "Hai, hai, Tuhan, kosong kotak, apa saja?" "Hai, itu bakal banget ya, apa saja kerja?" Jadi, bagaimana kita bisa verifikasi punya usaha? Kalau itu berlalu seharusnya bukan usaha sepalu ya? Nah, sepakati-sepakati ada ada, lagi sama laki-laki yang dikit ini kan? Iya, sepatunya ya kan? Tapi jangan yang yang kanu ya, yang murti ya. Itu ideku. Karena gini, pertama kita tuh harus ngebangkitin usaha kita sendiri. Kedua, kita sama-sama saling menjaga nih antara penjual sama pembeli, misalnya gitu kan. Saling menjaga, saling mengingatkan. Misalnya kita desain ini sebagai penjual, pembelinya merayu dalam macam. Udah, apa gini-gini, kita manusia biasa kan, goyang iman kita. Pengen itu sebagai aplikasi ini sebenarnya. Itu basic kita secara bisa kita seperti apa? Jadi itu kalau kita main bola, sebelum kita pihak dulu deh, mampu enggak kita berpikir timbik? Tapi lo enggak bisa memasarkan solusi itu jadi motivator. Kayaknya Masri kapan dikasih panggung, saya langsung. Ya enggak, enggak, selesai, selesai, selesai, selesai, selesai, selesai, selesai. Jadi itu challenge. Kenapa saya jadi kenapa saya dulu ya basic-nya adalah siap lagi saya waktu dengan diri awalnya, kemudian ke sales, business development segala macam. Itu terus tiba-tiba orang tidak punya latar belakang IT bisa masuk dan langsung diunduki jabatan waktu itu masih GM. Saya jadi saya enggak dari bawah, langsung GM aja dong. Saya kan saya enggak punya basic IT, Pak. Segala macam. Gini-gini-gini, gua enggak perlu itu, kata bos gua. Sekarang jadi menteri kesehatan. Gua ada dua bibir. Ada saya bikin kan, bukan berjaman diri. Gue perlu itu. Terus gimana? Pas dalam macam, Allah, atau bos gua apa? Gua bilang gini, "Bos, bos, Bang Mandiri itu kalau orang itu..."

presentasi pusing bahwa bahasanya itu bahasa hati padahal kami ini pengambil keputusan. Jadi saya butuh orang yang bisa menerjemahkan bahasa aliennya mereka. Kayak gini, apa itu gitu kan, tampilan depan, frontage gitu kan, tapi kalau user interface, user experience, kemudian integration, gitu kan. Makanya orang itu apa? Bro, kacamata kuda yang tidak tersampaikan. Orang itu kacamata kuda, bener. Dia AABB kan, beda sama orang-orang ekonomi, orang-orang sales, orang marketing, beloknya kemana-mana kan. Kontraktor itu memang. Tapi masalahnya adalah, lu ini, ini, itu kan user, ya. Dia developer, developer, developer, developer. Itu lu butuh feedback dari orang lain. Sempurna aplikasi bisa dipakai sama orang. Lu jangan pakai kacamata lu, gitu kan. Tapi sebenarnya developer, jadi lo butuh terburuk. Lo butuh feedback dari lain. Lu butuh insight dari pihak-pihak lain itu. Apalagi kalau misalnya perusahaan-perusahaan gede, itu melibatkan namanya komisaris, investor, segala macam yang dia butuh. Nah, sekarang bagaimana caranya gue bisa meng-approve sebuah program lo, sedangkan gua aja masih blank? Akhirnya di situ mau terjun, Bro. Pusing kepala gua. Jadi ibaratnya tuh tugas gua adalah, ini bahasanya IP, kerjaan gua sebelum presentasi, gua 15 menit gua merangkum, membuat bahasa menjadi sederhana, dan bos gua ngerti translasi tadi. Iya, karena kan di sisinya adalah yes or no, kan? Oke, Pak, sudah 30-30, gitu kan? Oh, ya di-gamet-gamet-gamet.

Pembicara 1: Hai, ketika Rasulullah bertanya kepada kita, masih ketika kita ketemu di Teraja, harus tahu apa-apa seluruhnya, apakah kita mau menjawabnya dengan jawaban saat ini, pemikiran kita saat ini, kita mau menjawab, "Ya Rasulullah, itu kan musim di Palestina, itu kan musim di India, itu musim Yukur. Kami tersekat dengan batas-batas negara yang Rasulullah, sehingga kami tidak bisa menolong mereka." Kita tidak bisa menjawab jawaban seperti itu. Kenapa? Karena Rasulullah ketika memimpin, ketika menjadi Rasul, kemudian menjadi kepala negara, memimpin peradaban, itu tidak mengenal istilah sekat-sekat negara. Seluruh muslim di seluruh dunia itu pemimpinnya hanya satu, yang kita sebut di dalam Islam sebagai seorang khalifah. Pemimpinnya hanya itu. Enggak ada istilahnya Palestina punya pemimpin, Yuku Ibu punya pemimpin, Indonesia punya pemimpin. Itu adalah sistem saat ini yang memecah belah umat. Sehingga apa? Umat itu kehilangan kekuatannya, umat itu kehilangan pelindungnya. Karena Imam Al-Mawardi di dalam kitab Al-Ahkam As-Sulthaniyah itu mengatakan bahwa Al-Imam Junnah, imam seorang pemimpin itu adalah selayaknya seorang pelindung yang mana orang-orang itu akan berlindung di belakangnya dan orang-orang akan berjihad atas nama Islam, atas nama kepemimpinannya. Saat ini, Pak, apa yang bisa kita lakukan kepada saudara-saudara kita yang tadi, Pak? Kita cuma bisa melakukan selemak-lemaknya imam, apa? Berdoa, cuma itu, Pak. Kenapa? Karena tidak ada toreh. Bagaimana kita bisa menerapkan hukum-hukum yang Allah tegaskan? Tidak ada metode. Belum ada metode sehingga pemikiran kita terkait Islam ini bisa kita terapkan. Cuma sekali lagi, Pak, Islam bukan hanya perkara ibadah ritual. Islam tidak hanya mengatur bagaimana kita salat lima waktu, kita haji, salat rajin, cinta bukan sampai mati. Tidak hanya itu. Tapi bagaimana Islam itu mengatur sistem pemerintahan, sistem ekonomi, sistem sosial, sistem pendidikan, itu semua diatur di dalam Islam. Ya itulah kenapa Islam dinamakan sebagai ideologi atau mafda. Karena Islam memenuhi syarat akidah, akidah yang bersyur, anhan, isho, yaitu keyakinan yang rasional. Keyakinan, keimanan yang dilandaskan dengan teori berpikir yang dari keyakinan itu lahir aturan-aturan yang dibuka. Dan Islam satu-satunya yang lahir dari Allah SWT, itu nanti dikatakan sebagai ideologi yang benar atau al-hizbatu as-sofi. Karena kalau ada ideologi yang benar, berarti ada ideologi yang salah. Ideologi yang salah apa? Ideologi yang lahir dari kecerdasan manusia. Aturan yang lahir dari kecerdasan manusia itu dikatakan sebagai aturan yang salah. Karena sifat manusia ini terbatas, sehingga penilaian kebenaran itu bisa terbatas, mengunggulkan ide itu terbatas. Untuk golongan A mungkin itu baik, tapi bisa jadi golongan B itu mengatakan tidak baik. Untuk suku A baik, belum tentu untuk suku B baik. Sehingga kalau akurat itu diserahkan kepada manusia, digelontorkan kepada manusia untuk mengatur kehidupannya sendiri, yang terjadi apa, Pak? Terjadi perpecahan, perselisihan, bahkan bisa sampai pertumpahan darah. Kalau kita biarkan manusia yang mengatur aturan kehidupannya sendiri. Nah, Islam hadir itu sebagai aturan yang datangnya langsung dari Allah berupa wahyu, diturunkan kepada Rasulullah, disebarkan ke para sahabat, dan sampai akhirnya ke kita saat ini, yang mana aturannya sudah lengkap. Namanya pencipta, kalau menciptakan sesuatu, ada aturannya, berarti kan aturan itu sesuai dengan ciptaannya, kan, Pak? Contoh, ada HP, Pak. Kita punya HP, ketika kita beli, itu kan pasti ada petunjuk, Pak, ya? Ada bagaimana cara menggunakan HP-nya. Contoh, Pak, ketika kita beli HP, kita merasa pintar, "Ah, ini HP." Siolah biasa.

Ini HP simpel, lah, biasa. Kita sudah punya biasa, mekanik HP simpel, Pak. HP-nya mahal, kita anggap itu anti air. Tahan air, bukan anti air, tahan air. Akhirnya ketika terendam dengan debu, kita cuci, Pak, di wastafel. Kita pakai sabun cuci baju atau sabun cuci piring, kita cuci HP-nya. Ternyata yang terjadi apa? HP-nya hang, HP-nya rusak. Kenapa? Karena tidak digunakan sesuai dengan aturannya. Akhirnya pelatnya rusak. Ya, harusnya pelat itu tidak boleh kena air, tapi dikenakan air, dikasih air. Kalau hal yang simpel, hal yang sederhana itu bisa rusak seperti itu, apalagi manusia yang kehidupannya kompleks, masalahnya kompleks, masalahnya banyak. Kalau kita mengandalkan kecerdasan akal kita, kita tidak buka tuntunan yang Allah berikan, tuntunan yang Allah berikan, ya sudah siap-siap. Itulah kenapa saat ini hidup kita hancur, hidup kita berantakan. Bahkan tidak hanya individu, kita semua umat muslim saat ini. Kita lihat tadi videonya sudah diperlihatkan kepada kita, di mana yang muslimnya minoritas, pasti terjajah, pasti tertinggal. Bahkan ketika muslimnya mayoritas pun itu masih terbelakang, kalah dengan orang-orang yang minoritas.

Ini ketika umat saat ini meninggalkan tuntunan. Ketika Islam itu hanya dijadikan pemikiran saja, sehingga tidak ada aplikasinya, tidak ada implementasi dari pemikirannya. Kita penasihat saat ini, Pak. Di zaman saat ini, dakwah itu kan benar-benar di mana-mana ada, kan? Di YouTube ada, di mana lagi? TikTok ada, di Instagram ada, di mana-mana semua dakwah itu ada. Tapi dakwah itu hanya sebatas pemikiran saja, bagaimana itu putih kau bersinar, harus begini, begini, begini. Bahkan kebanyakan dakwah saat ini, Pak, itu hanya menyentuh terkait akhlak dan ibadahnya saja. Bagaimana kita harus beribadah kepada Allah, bagaimana kita harus berakhlak? Kan hanya itu saja. Ada yang menyentuh dimensi yang ketiga, kan? Nah, sehingga hanya menjadi pikir, tidak ada metode. Sehingga Islam ini belum benar terasa, kenapa kita belum merasa bahwa Islam itu cahaya, Islam itu bangkit, Islam itu umat yang terbaik? Karena metodenya ditinggalkan saat ini, Pak. Umat Islam di Indonesia kan tetap besar-besar sih, seluruh apa namanya? Bahkan ya sudah, betul lah, menjadi nomor dua. Tapi pertanyaannya, kita diatur dengan sistem apa saat ini? Demokrasi, ya, Pak? Yang itu hasil kejar dasar manusia yang sifatnya terbatas, sifatnya pasti ada perdebatan, pasti ada perselisihan. Ya, sehingga kita lihat yang diuntungkan, ya, Pak? Yang diuntungkan yang hanya penguasa-penguasa, atau yang dekat dengan penguasa. Yang di luar lingkaran penguasa, enggak diuntungkan, Pak. Nah, kalau kita berharap Islam itu bisa diterapkan di demokrasi, ya kita semua bahwa dialog, enggak nyambung, Pak. Atau berarti air dengan minyak enggak akan bisa menyatu karena dasarnya sudah berbeda.

Nah, inilah kenapa pentingnya kita harus memahami bagaimana jalan dakwahnya Rasulullah. Kita sudah diberikan contoh yang jelas, contoh yang dicintai oleh Rasulullah, yang benar itu dari Allah, yang sudah terbukti suksesnya, kita ikuti agar apa? Agar kita mendapatkan izah, agar kita mendapatkan kemuliaan sebagai seorang muslim, sebagai seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalau Allah firmankan di dalam surah Ali Imran ayat 110, Allah katakan apa? "Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnas." Ini kata Allah, ya. Karena wahai umatnya Nabi Muhammad, itu adalah khoiru umat, sebaik-baiknya umat. Artinya kalau khoiru umat, sebaik-baiknya umat, harusnya umat Islam yang memimpin, umat Islam yang berjaya, umat Islam yang memegang kendali. Karena kita apa? Sebaik-baiknya umat. Tapi saat ini yang terjadi apa? Kita justru tertinggal, terjajah, dan keterbelakangan.

Nah, dalam aktivitasnya, "takmuruna bil ma'ruf wa tanhauna anil munkar." Kalau kita mau menjadi umat yang terbaik, umat yang memimpin, umat yang menang, umat yang tidak tertinggal, salahnya ada dua. Yang pertama, "takmuruna bil ma'ruf wa tanhauna anil munkar." Artinya apa? Berlega wak

ini apa? Berdakwah mengajak orang-orang untuk menjadi baik dan menjaga orang-orang untuk berbuat mungkar. Dan yang kedua adalah beriman kepada Allah. Kalau kita lihat secara bahasa, secara bahasa Arab, ini kan Allah menuliskan perintahnya dulu baru kata iman. Kalau kita lihat di Al-Qur'an itu kan, maka rata yang disebutkan imannya dulu ya, Pak? Ya ayyuhal ladhina amanu kutiba 'alaikum siam. Ya ayyuhal ladhina amanu kutiba 'alaikumul qisas. Kan amanu dulu, kata iman dulu, kata-kata untuk keyakinan dulu, akidah dulu, baru perilaku seperti itu. Tapi di sini khusus, kalau katakan apa, amalnya dulu baru imannya. Artinya kalau dalam ilmu maqosid itu, Allah seangkat-angkat mau menasakkan kepada umatnya Nabi Muhammad, beramal-amal aktivitas amal makhluk Nabi Muhammad itu lebih utama daripada keinginan itu sendiri. Bisa dikatakan seperti itu? Ya, seakan-akan seperti itu, walaupun ya, seakan juga harus beriman agar amal makhluk Nabi Muhammad dinilai mahalnya di sisi Allah. Karena kalau kita tidak amal makruf nahi munkar, yang terjadi seperti hal yang saat ini terjadi di negara-negara minoritas di Palestina yang sampai ini tidak selesai-selesai. Maka kalau kita lihat bagaimana wajah umat Islam karena meninggalkan dakwah, karena meninggalkan amal makruf nahi munkar, itu akan terjadi seperti itu. Kita akan susun melalui fase-fase. Yang pertama, di bidang politik. Kita lihat bagaimana umat Islam terpecah belah menjadi banyak negara. Yang dulunya, terakhir sebelum tahun 1924, ketika ada khilafah Utsmaniyah, itu kita, apa namanya, menguasai dua per tiga dunia dikuasai sama Islam dan satu kepemimpinan seorang khalifah. Tapi setelah 1924, di dalam hari beruntung kita terpecah belah menjadi banyak negara. Kita sudah seperti ayam yang kehilangan induknya. Ada Palestina yang dijajah, Indonesia bisa melompat? Enggak bisa. Kalau melompat, apa yang tanya? Itu urusan segala lain, bukan urusan negaramu lewat beropi. Ternyata waktanya juga bukan melompat, justru malah menjadi seputunya dijajah, seputunya Israel. Nah, di sinilah cerminan ketika kita tidak amal-amal nahi munkar, di bidang politik kita tertindas.

Selanjutnya, di bidang ekonomi. Bagaimana saat ini didominasi oleh kapitalisme global seluruh dunia? Semuanya memegang sistem kapitalis global. Sehingga apa? Kesenjangan kemiskinan itu semakin nyata, semakin jauh, semakin panjang. Si miskin kelihatan, apa namanya, kesenjarannya dengan si kaya.

Kemudian selanjutnya di bidang sosial. Kita lihat bagaimana kerusakan akhlak dan hancurnya sendi-sendi. Bahkan tidak hanya di tubuh mati, selama di tubuh seluruh manusia. Ya, kepadanya yang lama itu kasus di Bantuan ya, COVID-19 diet itu yang apa, menyekap, itu kan terwujud bahwa rusaknya bidang sosial, kerusakan akhlak. Dulu, Pak, kalau kita melihat orang-orang berdua-duaan di pinggir jalan itu kan sangat jarang ya, sangat jarang yang dekat banget atau bahkan kepalanya bisa jadi menyekap. Itu kan jalan. Sekarang kalau kita lihat di daerah jalan pesul, jalan pesul sampai lurus ke jalan yang mau ke Bintaro itu, nah, daerah situ kan ada tepian. Kalau malam, jam 11 malam ke atas, itu ada spot-spot yang masing-masing. Nah, sering lewat situ. Saya sudah lewat situ, sudah ada keren dua orang ini sudah anak kecil umur lima tahun sudah kenal pacaran dan lain sebagainya.

Kemudian pendidikan, lahirnya generasi yang materialistis dan hedonis. Muncul apa namanya, konten-konten yang OOTD, outfit apalah itu tak pokoknya, sehingga menilai manusia itu dari outfit yang dia pakai. Oh, kamu bajunya berapa, jamnya berapa, cengangnya berapa. Ini kan mendidik manusia itu menjadi generasi yang maklumat teknis hedonis. Sehingga apa, Pak? Esensi pendidikannya enggak ada. Kalau ditanya, enggak ada kalau ditanya perkawinan. Anak SMP sekarang kepikiran ada apa namanya, sosial eksperimen? Enggak. Kalau jangan tanyakan pertanyaan perkawinan, tanyakan terkait apa namanya, keluarga negaraan aja, segitu dan lain sebagainya. Itu baru itu. Apalagi kalau yang ditanyakan terkait akidah, nabi terakhir siapa? Mereka itu bingung kan? Nabi Muhammad itu bapaknya siapa? Mereka terbingung aja. Coba yang ditanya siapa bapaknya? Atau ada itu, aku di sini yang YouTuber itu apa? Atau siapa saudaranya? Mereka hafal kan? Tapi kalau sudah ditanya Rasulullah itu siapa? Rasulullah punya anak berapa? Kemudian ibunya siapa? Ayahnya siapa? Mereka enggak kenal, mereka enggak tahu. Nah, ini menggambarkan bagaimana sudah gomongnya kita di bidang pendidikan. Kemudian selanjutnya kita lihat bagaimana di bidang apalagi umat Islam saat ini hanya menjadi konsumen, mau di negara minoritas atau mayoritas. Kita lihat apa yang kita pakai? Ada enggak yang mereknya Samsung, Pak? Enggak ada ya, Samsung, iPhone.

yang dipakai apa? Ilmu abog-abog yang abognya tebal itu yang menang. Ada yang ikuti kasus Bupati Riau sebagai yang terjadi di, dikasuskan sama wakilnya sendiri. Jadi dikasuskan sebagai tersangka korupsi, padahal ketika ditangkap itu tidak ada buktinya sama sekali. Nah, kenapa? Karena si wakil ini punya koneksi banyak, punya uang banyak, mafia-nya banyak. Sehingga dia bisa menghabisi bupati yang wali. Lagi lama nih, Pak. Sampai setelah Ustadz Abdul Somad kuas itu menjadi saksi untuk si bupati Riau. Nah, nanti cari apa? Saya dengarkan kesaksian-kesaksian wali. Seru juga ini, Pak, kalau kita ikuti. Dan makin kelihatan bobroknya sistem demokrasi. Karena buku itu, landasannya, tujuannya hanya untuk kepentingan segelintir orang penguasa, hanya untuk kemaslahatan yang memiliki kuasa. Bahkan seorang pemimpinnya sendiri itu bisa jadi bukan pemimpin langsung. Karena memang dalam demokrasi, pemimpin dalam demokrasi itu bukan pemimpin yang sebenarnya. Tapi mereka hanya sebagai pemimpin bayangan. Belakangnya siapa? Belakangnya adalah oligarki. Mereka yang ngasih modal, sehingga si Pak Moe bisa menjadi presiden. Akhirnya semua kepentingannya harus sesuai dengan pemberi modal ini. Dibina hukum, selanjutnya dibina budaya. Lebih-lebih kita sudah terseret harus budaya westernisasi, semuanya mengikuti standar barat-barat. Kalau enggak kebarat. Kemudian ditambah lagi di bidang agama, semakin kaburnya pemahaman akidah kita. Kalau melihatkan statistik Indonesia saat ini yang menurun. Indonesia menjadi muslim mayoritas nomor satu di Indonesia, sekarang menjadi nomor dua Pakistan. Kalau kita jumlah, aman kok Ustaz, masih banyak muslimnya. Kita jangan melihat hitungnya, Pak. Tapi kalau kita teori gunung esnya, kita lihat yang ada di bawahnya, Pak. Berarti secara tidak langsung karena kita, apa namanya, banyaknya pengurdaan, otomatis umat muslim sejatinya itu berkurang, Pak. Umat muslim di Indonesia itu semakin berkurang, semakin berkurang. Sehingga populasinya semakin sedikit, meskipun kelihatannya banyak. Bahkan saat ini berapa banyak muslim yang hanya statusnya KTP muslimnya? Hanya untuk nikah, hanya untuk kematian. Sama apa lagi, Pak? Perceraian. Sudah, itu aja. Selain itu enggak mau diatur pakai Islam. Ekonomi enggak mau. Apa lagi? Pendidikan enggak mau. Sistem sosial enggak mau diatur dengan Islam. Ini kan contoh berarti wajah umat Islam di bidang agama juga sudah tertindas, terjajah. Jadinya apa, Pak? Jadinya seperti ini, Pak. Mengenaskan, Pak. Wajah umat saat ini seperti ini, Pak. Tidak ada harapan lagi. Memang dakwah saat ini ada di mana-mana, di sosial media, di masjid. Apalagi kalau Ramadan, Pak, ya. Kalau Ramadan itu bisa dibilang 24 jam, Pak. Jadi habis subuh, jadi habis itu lanjut. Habis sahur, lanjut lagi. Buka puasa, lanjut lagi. Habis tarawih. Itu tinggal kuat-kuat yang isi aja, Pak. Ini kuasa badan. Kalau enggak bisa, saya lagi di tengah-tengah Ramadan. Ketanya, Pak. Di mana-mana ada ceramah, bahkan sampai di instansi-instansi pemerintahan ada ceramah. Tapi kenapa kok tidak ada penubatan? Kenapa kok tidak ada efek yang signifikan di tengah-tengah masyarakatnya? Ini yang harus kita kaji. Jangan-jangan, dakwahnya hanya dakwah sebatas bagaimana memperbaiki akhlak dan ibadahnya saja. Dan memang kebanyakan seperti itu. Kalau dia membahas yang lain, sudah siap-siap, enggak akan dilakukan. Saya belum pernah, eh, sedikit curhat, Pak. Saya pernah juga di kantor pertanahan, Pak. Kantor Kantah, kantor pertanahan Kota Kamalita. Saya jadi pengisi tetap selama setahun. Hanya saya mau ngetes nih, Pak. Terakhir kali saya diundang, saya mau ngetes. Ini setelah saya nyampe ini, saya diundang lagi apa-apa? Terima kasih.

ternyata benar, Pak. Setelah saya menyampaikan masalah integritas, pengkhianatan, korupsi, keadilan, terus bagaimana Islam itu mengatur kepemilikan tanah, kepemilikan di dalam sistem ekonomi, dan lain sebagainya, pas ada acara selanjutnya saya tidak diundang. Nah, ini kan contoh. Ini contoh kalau berarti dakwah yang selama ini diinginkan masyarakat itu harus dakwah yang adil, sehingga tidak ada perubahan di tengah-tengah masyarakat. Maka ketika kita mau menyelesaikan problematika-problematika itu, kita harus memulai dari start yang benar. Kalau kita sudah memulai dari apa namanya, dari tempat yang salah, maka akan finish di tempat yang salah. Kalau start-nya sudah salah, maka finish-nya juga salah. Tapi kita harus memulai dengan cara yang benar, dengan start yang benar, dengan metode yang benar.

Karena apa? Karena permasalahan umat manusia saat ini kompleks sekali. Bukan hanya perkara masalah individu, bukan hanya dalam perkara keluarga saja, bahkan dalam perkara global. Kita kalau sudah memahami Islam itu sebagai ideologi, kita tidak boleh melihat Islam itu hanya sebatas, "Udah, yang penting Islam di negara kuat, salatnya enggak diganggu, puasa enggak diganggu, haji enggak diganggu, dan terserang negara lain mau menjadi seperti apa?" Itu namanya kita egois. Berarti kita hanya mau masuk surga sendiri. Nanti kita dikatakan sebagai apa oleh Rasulullah? Sebagai orang yang ashabiyah, orang yang fanatik. Man 'ata 'ashabiyatan falaisa minna, barang siapa yang dia itu meninggal kemudian meninggalnya dalam keadaan ashabiyah, yaitu fanatisme, fanatisme golongan, fanatisme negara, aparatisme suku, maka dia meninggal, ya itu bukan dari golongan kami, jadi bukan umatnya Rasulullah SAW.

Nah, dalam memulai dakwah, kita harus mencari fakta yang benar terkait apa yang dikatakan masyarakat. Ini yang penting. Karena dalam menilai fakta yang salah, nanti insya Allah kita akan kalau lanjut lagi nanti ada materi syariah, itu nanti dijelaskan terkait bagaimana pengambilan sumber. Salah satunya, kita harus melihat fakta itu dengan benar. Jadi, kan masyarakat, kita kan mau berdakwah kepada perubahan masyarakat. Berarti kita harus memahami fakta masyarakat itu apa dengan benar, bukan dengan salah. Salah memahami, salah tindakan, salah hasil. Benar memahami, benar tindakannya, hasilnya pun juga benar.

Apa fakta? Nah, fakta masyarakat itu adalah minimal. Jadi, kalau selama ini kita dicekoki dengan pemahaman-pemahaman, fakta masyarakat itu hanya dua, biasanya. Kalau kita belajar di sekolah-sekolah, itu kan mereka memahami fakta masyarakat itu dua. Apa? Kumpulan individu-individu berada di wilayah tertentu. Sudah cukup di situ saja. Itu kalau kita memahami dengan pemikiran-pemikiran selain Islam. Kalau Islam, menganggap bahwa masyarakat itu adalah kumpulan individu-individu berada di wilayah tertentu dan berinteraksi secara terus-menerus. Karena kalau kita benar-benar memahami fakta yang nomor dua, artinya apa, Pak? Dakwah kita hanya cukup di individu saja. Selanjutnya sekarang, Pak, dakwah di individu saja itu bisa menghasilkan perubahan? Ya kan? Korupsi masih ada, kan? Masih ada. Persidangan masih ada, masih ada. Pembunuhan masih banyak yang melakukan. Siapa, kan? Ini selama, bahkan kalau ada orang yang masuk Islam, saya pernah diskusi sama salah satu mantan, itu cerita saya itu waktu masuk, bisa masukkan banyak, banyak melahirkan, kecuri, banyak melahirkan, melahirkan pelaku zina seperti itu. Sampai akhirnya dia minta, "Gimana sih bisa yakin?" Karena si sebelah itu selalu mengiming-imingi saya, "Kalau kembali jadi pendeta, saya kasih mobil, saya kasih rumah, silakan, saya kasih pasangan." Karena ketika dia memutuskan untuk Islam, itu diceraikan sama istrinya, ditinggalkan sama anaknya, diiming-imingi itu terus, Pak. Nah, itu kalau akidahnya berdasarkan perasaan, wah, mudah, Pak, dia akan balik ke agamanya untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dunia. Tapi kalau akidahnya kalau berdasarkan aqliah, dia bisa mempertahankan keimanannya kalau hanya sebab...

Kalau hanya sebatas individu atau berada di wilayah tertentu, meskipun contoh misalnya, dia individunya 100% Islam, di wilayah yang memang pokoknya dia berada di individu-individu, berada di satu wilayah, mungkin 100% penduduknya Islam. Itu bisa dikatakan belum termasuk masyarakat yang Islam, belum termasuk negara Islam atau wilayah Islam. Kenapa, Pak? Karena hanya sebatas dua ini saja definisinya, hanya dua. Harusnya perlu yang ketiga, Pak, yaitu interaksi secara terus-menerus atau yang dikatakan *al-'alaqah ad-da'imiyah*, interaksi yang dilakukan secara terus-menerus. Dan itu adalah interaksi bagaimana menyatukan pemikiran, menyatukan perasaan, dan menyatukan beratulah. Ini yang harus disentuh. Jadi, misalnya ada masyarakat di suatu wilayah 100% Islam. Nah, kemudian mereka memiliki kesatuan pemikiran. Contoh misalnya, mereka memiliki pemikiran bahwa ketika ada yang pinjam uang, ada yang hutang, itu harus kembali lebih dari 10%. Contoh nih, misalnya pinjam uang 1 juta. Nah, kalau mau kembali, berarti harus ada lebihnya 10%. Berarti berapa, Pak? 1 juta 100. Nah, itu ditanamkan, Pak, di pemikiran. Walaupun itu muslim semua, itu ditanamkan bahwa kalau kembali uang, pikir uang, kembalinya harus lebih 100%. Maka karena pemikirannya sudah dibentuk seperti itu, mereka punya kesatuan pemikiran, akhirnya muncul kesatuan perasaan. Perasaannya apa? Kalau dikembalikan lebih 10%, dia suka, dia senang. Tapi kalau dikembalikan kurang, tidak ada lebihan 110%, berarti dia tidak suka, dia tidak bahagia, dia tidak senang. Bahkan dimunculkan hatiwanya sama kepala desanya, misalnya, ada yang meminjamkan uang, kembalinya bukan 10%, nanti yang berlainan dihukum. Nah, itu lah kira-kira. Walaupun 100% Islam, berarti kan dia bukan masyarakat yang Islam. Kenapa? Karena pemikirannya, perasaan, dan peraturannya itu bukan menggunakan peraturan Islam. Bahkan bisa dikatakan sebagai masyarakat yang setan, lah, penduduk setan. Kenapa? Itu Allah yang mengatakan. Nanti disuruh Allah orang dan Allah mengatakan, "Tuh, Allah *na'yibah* (mungkin maksudnya riba), orang yang makan riba, meminjam, pencatat, pemberi, itu nanti ketika di akhirat kalau dia belum bertobat, apa kata Allah? Dia akan dibangkitkan seperti orang yang sepoyongan karena kerasukan setan, kalau tidak bertobat." Nah, ini kita diberikan kesempatan sama Allah. Berarti kita harus meninggalkan. Nah, maka misalnya ini kan sudah, berarti kan mereka punya satu kesamaan pemikiran bahwa kalau meminjam uang harus ada bunganya 10%, kesamaan perasaan kalau dipinjamkan, dikembalikan 10% dia senang, dan ada aturannya. Nah, kemudian, Pak, kalau ini di apa namanya, interaksinya ini yang kita punya itu nanti akan memunculkan goncangan. Misalnya nih, ternyata Bapak, Ibu, Bapak Ibu ini mau berdakwah di wilayah tersebut. Ini kan karena 100% sudah Islam, kan tidak diakui. Oh, apa namanya, ini adalah perkara riba, ini tidak boleh. Sesuatu pinjaman yang menghasilkan, nampak hukumnya adalah riba. Riba itu hukumannya ada berapa? Tujuh dosa. Tujuh puluh tiga dosa, dan yang paling ringannya seperti menzinai ibu kandung sendiri. Itu paling berat. Nah, disalahkan Pak, "Soal Mas Ibu seperti itu." Kata-kata masyarakatnya, "Itu bukan pemikiran kita yang setuju." Ketika, kan ini karena satu pemikiran. Kalau dia masih satu pemikiran, kan ada yang di dalam nih. Tapi ketika ada yang sepakat dan ada yang tidak sepakat, maka di tengah-tengah masyarakat akan ada gejolak, akan ada bergejolakan, sehingga memunculkan yang namanya perubahan. Makanya kalau kita berdakwahnya mau mencapai perubahan, kita harus berdakwah di sini. Bagaimana kita menyatukan umat di dalam pemikiran yang Islam, kesatuan yang Islam, perasaan yang Islam, dan peraturan yang Islam. Dan ini memang luar biasa, luar biasa intimidasi. Ada yang ceramah kalau bahasnya masih individu-individu, tapi kalau sudah ceramahnya masalah ini yang digoyang, yang disentuh, waduh, siap-siap bisa jadi besok enggak diundang lagi. Jangan-jangan ke enggak diundang lagi, Pak, diblokir, atau bisa dipersekusi. Nah, itu kan tantangan saat ini, Pak. Kalau kita masih mau egois, kita masih mau rasa darah cukup di diri kita sendiri, apa pertanggungjawaban kita di hadapan Rasulullah? Kepada teman-teman, saudara-saudara kita yang tadi di tibetan. Seharusnya kita berdakwahnya di sini, Pak. Agar apa? Agar kita memiliki hujjah di hadapan Rasulullah, kita memiliki pertanggungjawaban di hadapan Rasulullah. "Ya Rasulullah, aku sudah bergerak nih, aku sudah melaksanakan nih, bagaimana agar umat ini memiliki kesatuan pemikiran, perasaan, dan peraturan?" Maka dakwah untuk perubahan harus dimulai dari sini, Pak, ya, tapi dari menyatukan pemikiran, perasaan, dan perbuatan. Nah, kalau kita lihat dakwah itu tadi, lihat apa namanya, dakwah yang kita sentuh ini kan yang dakwah ada *alaqah*, *ala ad-da'imiyah*, interaksi secara terus menerus. Nah, *alaqah* di dalam Islam itu kan dibagi tiga, Pak, ya. Kalau kita lihat terkait definisi Islam, Islam itu kan nanti adalah agama yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah dengan apa? Mengatur hubungan manusia, alam kemanusiaan. Ini yang pertama, dengan Allah, dengan penciptanya, terkait akidah dan ibadah. Itu kan diatur sama Allah, kan? Ini masih perkara individu. Yang kedua, *wala*...

individu, dari berikut masyarakatnya, itu akan dipenuhi pendidikannya, kesehatannya, dan keamanannya. Semua gratis diberikan oleh negara. Kita enggak perlu lagi mikir, Pak, bagaimana pendidikan anak kita, bagaimana kesehatan kalau sakit, bagaimana keamanan, apakah kumpul ke atas, tajam ke bawah, Pak? Kamu mikir, kenapa? Karena Islam sudah menjamin. Jadi tugasnya adalah menyeru kepada Islam dan menjaga kebaikan dan menjaga keberhasilan. Ini tugas kelompok dakwah. Kalau ada kelompok dakwah yang keluar dari ini, yang masih mengurusi urusan-urusan yang lain, berarti dia bukan kelompok dakwah menuju perubahan. Berarti dia masih sebatas individu dan wilayah saja.

Yang artinya dia mengurus masyarakat berarti hanya dua kriteria, bukan tiga. Sehingga status perintah tolak itu kita akan cari jatuhnya wajib, sunah, atau mubah. Untuk mengetahuinya, ada istilah di dalam apa namanya, penarikan suatu hukum itu adalah qorīnah. Qorīnah ini bukan nama perempuan, Pak, ya. Enggak ada nama perempuan, Pak. Qorīnah itu artinya indikasi atau pembandingnya. Jadi, ketika ada suatu perintah, ada indikasi. Kalau itu berupa ancaman untuk melaksanakan, berarti perintah itu wajib. Kalau ada indikasi perintah untuk meninggalkan, berarti perintah itu adalah larangan untuk ditinggalkan. Berarti keharuman.

Nah, ternyata muncul, Pak, apa indikasinya? Wariannya adalah, habis Rasulullah, kita sebagai umat Rasulullah itu pilih hanya cuma dua. Ingat, pilihan kita hanya dua, enggak ada enggak apa. Yang pertama, falyamlu’ amalu man qāl, artinya dakwah itu merupakan kewajiban, enggak boleh pilih. "Gitu ya, udah aku enggak usah berdakwah, biar yang usah-usah ada yang dakwah, biar yang apa namanya, yang merusak pesan kenal yang berdakwah." Enggak, dakwah itu adalah kewajiban sebuah umat Islam sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Kenapa harus bicara di depan? Sesuai dengan kapasitas masing-masing. Yang bisa di media sosial, lewat media sosial. Yang bisa dengan usaha, dengan usahanya. Yang bisa dengan apa namanya, ide-nya, dengan ide-nya. Semuanya dia potensikan untuk dakwah. Artinya, poros hidupnya itu adalah dakwah, semuanya siklusnya itu berbentara di dikara dakwah. Apapun yang dia lakukan untuk dakwah.

Atau pilihan yang kedua, kalau tidak mau berdakwah, berarti dia mau pilihan yang kedua. Apa yang kedua? Fa’layyashibakumullahu ‘adzāban alīman. Pilihan yang kedua adalah Allah akan mendatangkan siksa dari isinya yang akan menimpa kalian. Jadi kita cuma punya dua pilihan yang diberikan oleh Rasulullah. Kalau tidak mau berdakwah, berarti pilihan yang kedua apa? Allah akan menimpa siksa kepada kita. Dan itu ketika siksa itu datang, ketika siksa itu datang, engkau berdoa, "Ya Allah, saya mohon maaf, saya mohon ampun." Enggak akan diampuni oleh Allah. Kenapa, Pak? Karena dia cuek, dia enggak peduli, enggak tahu. Atau, man la yahtammu bi umūr al-muslimīn falaysa minhum. Siapa yang tidak peduli dengan urusan umat, urusan umat muslim? Kira-kira kita urusan Palestina, udah ya? Palestina udah, ulang, jujur dia, jujur atas lisan. Falaysa minhum, dia bukan orang muslim.

Bahkan ada suatu kisah di kitab-kitab, apa namanya, kitab-kitab klasik, untuk itu ada suatu kisah. Jadi ada suatu daerah, yang mana daerahnya itu, dia itu, apa namanya, maksiatnya luar biasa, loh. Padahal di satu desa itu ada orang yang sangat saleh, orang yang selalu berdoa, bermunajat kepada Allah. Doanya tidak pernah putus, loh. Bahkan bisa dibilang 24 jam dia selalu beribadah kepada Allah. Tapi, di sekitarnya, itu ada aktivitas kemaksiatan yang dia diangkat. Dia cuek, dia enggak mau berdakwah, dia enggak mau menegur. Kemudian Allah bilang, "Wahai Jibril, ditugaskan oleh Jibril ditugaskan kepada Jibril, wahai Jibril, azablah, terjun di desa tersebut." Ada Jibril, "Apa dia?" Allah, "Di sini ada satu orang nih yang masih beristikamah, yang masih memohon ampun kepadamu, yang masih apa namanya, menyembah, yang masih beribadah kepadamu." Apa?

Yang masih beribadah kepada-Nya. Apakah Allah menyiksa dimulai dari dia? Artinya, kenapa dia disiksa duluan? Karena dia tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ketika ada orang yang bermaksiat, dia cuma diam. Makanya, apa kan Pak? Ingat dosa investasi? Dosa investasi hanya akan turun, hanya akan dicatat kepada siapa? Orang muslim yang dia enggak tahu berusaha. Apalagi Bapak-Bapak sudah datang di sini, Pak. Sudah tahu dosa investasi, nah itu kewajiban berarti kita tidak boleh diam. Nah, itu biar mengajak-ngajak berapa itu? Nah, itu jadi jika bakal ya, oh ternyata saya diajak ini untuk menggugurkan dosa investasi. Kalau kita diam, bisa jadi kita yang pertama kali disiksa oleh Allah SWT karena pilihannya cuma dua, Pak. Kita mau mengalami nikmat atau kita mau disiksa oleh Allah. Jadi ini perkara yang nyata. Kita sudah selesai teori berpikir level 2, ya. Kalau sudah selesai teori berpikir level 2, berarti kita bisa menilai hal-hal yang gaib itu. Jadi jika ada dalil yang derajatnya itu pasti benar, maka hal yang gaib itu juga pasti benar. Nah, tujuannya kan sebenarnya apa ini, Pak? Tujuannya kenapa kemarin seperti misalnya ada jejak bar, kemudian ada asal, itu kan bisa dicari, ya? Bagaimana pembuktian membuat pernyataan kalau pernyataan itu pasti benar? Maka, apa pernyataannya? Ada yang memberkahi, ada yang membuat asal. Nah, itu kita dituntun, agar apa, Pak? Ada ketika mendapatkan berita buruk seperti ini, azab di akhirnya itu berita boleh atau enggak? Boleh, kan? Ada yang menanti azab terus hidup lagi? Mas, sekarang enggak ada, enggak ada kesempatan kedua. Kita keimanan, keimanan aktivitas yang dilakukan oleh Rasulullah, berita-berita yang ada di Al-Qur'an itu kan gaib-gaib. Ada yang pernah melihat Nabi Musa memukul tongkatnya kemudian membelah lautan? Jadi apa-apa saja jadi dua. Ada Pak di sini yang bisa melihat penanggungan? Itu kan perkara yang boleh. Kalau kita sudah selesai berpikir level 2, berarti apapun yang disampaikan oleh Rasulullah melalui hadis-hadis mutawatir. Hadis mutawatir itu berarti hadis yang pasti benar, itu di atas beratnya shahih. Kalau shahih itu kan masih dari satu riwayat, tapi kalau mutawatir, misalnya di semua orang yang ada di sini itu sepakat kemudian dia menyampaikan hal yang sama, berarti hadisnya mutawatir, pasti benar. Maka itu berita yang pasti benar. Berarti dia beri sumber yang pasti, sumber yang pasti benar. Dan satu-satunya yang pasti benar itu adalah Al-Qur'an. Yang kedua adalah hadis mutawatir. Nah, ini kan azab yang Allah berikan, itu adalah perkara yang gaib. Maka, kalau kita sudah meyakini iktikadnya dari Allah, berarti kita harus mengimani, kita tenangkan di dalam diri kita. Maka selanjutnya, kesimpulan hukumnya adalah, berarti dari korelasi hadis tadi, menunjukkan adanya siksaan. Jika kita meninggalkan apa-apa yang lain, maka korelasi tersebut menjelaskan bahwa perintah untuk menjadi segolongan umat, perintah untuk masuk menjadi sekelompok golongan yang amal ma'ruf nahi munkar itu adalah perintah yang fardu kifayah. Artinya apa? Artinya wajib, kewajibannya itu adalah fardu, tapi dengan Pak, fardunya ini bukan fardu ain, tapi fardu apa Pak? Fardu kifayah. Nah, ini ada yang tercerahkan bagi kita, Pak. Oh, ternyata fardunya fardu kifayah. Nah, tapi, Pak, ingat, Pak, ya. Status fardu, kita sang fardu kifayah, bukan fardu ain. Fardu kifayah itu bisa berubah menjadi fardu ain. Nah, kenapa fardunya fardu kifayah? Karena ada lafaz "mintakum" tadi, "waltakung minkum". Dan jatuhnya karya itu maknanya adalah sebagian, bukan seluruhnya. Tapi sebagian itu adalah keseluruhan al-muslimin. Jadi dari seluruh al-muslimin, itu minimal ada sekelompok yang dia tugasnya adalah al-ma'ruf nahi munkar. Nah, artinya, kalau sudah ada kelompok yang malah sarakan itu berarti kewajibannya sudah gugur. Sekarang kelompoknya ada atau tidak, Pak? Ada. Tadi apa kelompoknya? Kelompok yang mau perjuangkan agar syariat Islam itu bisa ditegakkan. Kelompok yang senantiasa berdakwah, bagaimana agar syariat Islam itu bisa diterapkan di seluruh lini-lini kehidupan. Itu ada kelompoknya? Ada. Berarti kewajibannya sudah gugur. Berarti kita tidak usah, tidak gabung, tidak apa-apa. Itu kalau gugur. Sampai sini, Pak? bahwa diputus sampai sini, Pak. Jangan diputus, Pak, belum selesai. Maka, peningkatan status hukumnya, misalnya, Pak, harus diingat, status hukum fardu kifayah yang itu bisa berubah menjadi fardu ain. Fardu kifayah yang itu bisa berubah menjadi fardu ain. Contoh, misalnya, Pak, ada seorang pemimpin yang namanya Pak Uomo, dia meninggal, nih, Pak. Misalnya, dia meninggal, kemudian ada orang-orang yang di dekatnya itu berusaha untuk melaksanakan fardu kifayahnya, kalau orang yang meninggal, apakah memandikan, mengkafaninya, mensalatkannya, dan menguburkannya. Nah, ini berusaha, nih, Pak. Teman-teman atau orang-orang di sekitar ini berusaha untuk menuntaskan fardu kifayahnya. Ada yang mau memandikan, ternyata tidak selesai-selesai karena airnya habis, airnya tidak mengalir, karena supaya PLN-nya mati, waktu batannya hilang, akhirnya PDAM tidak bisa mengalirkan air. Dia cari air ke mana-mana, selesai. Kemudian yang cari air kafannya juga selesai. Kalau misalnya sekelompok orang itu ternyata tidak selesai fardu kifayahnya, berarti menjadi fardu ain bagi orang yang ada di sekitarnya yang melihat. Oh, yang melihat ada 10 orang, berarti menjadi fardu ain untuk mereka ikut andil di dalamnya, bagaimana untuk menuntaskan fardu kifayahnya tersebut, sampai fardu kifayahnya terlaksana. Itu kalau fardu kifayah berubah menjadi fardu ain. Jadi, fardu kifayah bisa berubah menjadi fardu ain ketika yang memulai fardu kifayah ini belum bisa terlaksana dengan sempurna. Kemudian, contoh lainnya, ini contoh-contoh bakarnya ketika jihad di Palestina. Jadi, hukum asalnya kan jihad itu fardu kifayah untuk penduduk yang sedang dijajah, ditindas, itu kan fardu kifayah. Ketika ada sekelompok yang berusaha untuk menghilangkan penjajahan, akan tetapi tidak mampu, tidak bisa, maka fardu kifayah itu berubah statusnya menjadi fardu ain, bagi siapa? Bagi seluruh penduduk yang ada di wilayah Palestina. Ternyata penduduk di wilayah Palestina tidak bisa juga, berarti fardu ain dari seluruh kaum muslimin. Artinya, mereka harus ikut andil, mereka harus masuk untuk memberantas kezaliman atau penjajahan yang terjadi di Palestina. Itu contohnya, Pak. Bisa kita pahami, Pak, ya? Jadi, fardu kifayah itu bisa berubah menjadi fardu ain. Artinya, Pak, kesimpulannya, kalau saat ini, kan sudah ada, Pak, ya? Saat ini sudah ada jemaah dakwah yang bergerak bagaimana agar syariat itu bisa diterapkan secara sempurna. Sudah ada, Pak. Bagaimana mereka selalu berdakwah kepada seluruh elemen masyarakat bahwa menyadarkan umat-umat Islam ini bukan perkara ibadah ritual, tapi juga sistem kehidupan yang mengatur kehidupan manusia dengan adil. Kalau misalnya kelompok itu sudah bersusah payah, kelompok itu sudah berusaha untuk melakukan aktivitasnya, kemudian kan berarti sudah didukung. Kemudian kelompok itu masih belum berhasil, ternyata negara-negara muslim saat ini masih dijajah, masih dipimpin dengan sistem kapitalisme, sistem demokrasi, sistem sosialisme. Benar, kewajiban fardu kifayah, fardu kifayah tadi berubah menjadi fardu ain bagi seluruh umat muslim. Fardu ain, bagaimana seluruh umat muslim itu bisa ikut andil, bisa masuk ke dalam kelompok daulah itu agar penerapan syariat Islam bisa dilakukan secara sempurna. Itu maknanya, Pak. Saat ini sudah ada kelompoknya, tapi ternyata belum sukses juga, belum terlaksana juga, berarti bagi kita menjadi fardu ain untuk bergabung di kelompok tersebut. Nah, bagaimana metodenya? Metodenya itu seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah. Jadi, kita mengikuti teori ATP sesuai contoh yang dicontohkan oleh Rasulullah. Karena dasarnya kalau demokrasi dasarnya siapa? Plato, Aristoteles, Locke, Abraham Lincoln, kan manusia dasarnya, bukan Tuhan. Kemudian kita lihat sistem lainnya, sosialis, dasarnya siapa? Karl Marx. Respons atas sistem demokrasi yang rusak karena banyak uang ini, karena ada kebebasan individu untuk memiliki kekayaan, akhirnya sistem ini memiliki respon agar semua manusia punya sama rasa, sama rata. Kalau begitu, pemilik yang ditarik oleh negara, dibagikan secara rata kepada manusia. Nah, itu kan sistem buatan manusia dan terbukti tidak berhasil. Dan tidak bisa kita bergabung di salah satu jalan. Yang benar adalah mengikuti metode dakwah Rasulullah karena dasarnya sama, sanadnya jelas, dan juga terbukti berhasil. Di zaman yang Rasulullah sampai ke Khilafah Utsmaniyah, itu kan sekitar 13 abad berhasil Islam berkuasa di dua per tiga dunia. Dan kita sebagai muslim mau bersama-sama Rasulullah di dalam surga, atau bersama-sama Plato, Aristoteles, dan Abraham, maaf ya, Pak, dikerahkan kita mau sama dia, sama dia, Pak, sama Rasulullah di surga. Sudah jelas, Pak. Berarti dakwahnya harus mengikuti yang diajarkan oleh Rasulullah dan dalilnya sudah jelas, Pak. Allah sudah jelaskan. Ini dasar dalilnya, Pak. Bagaimana Allah katakan, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu uswatun hasanah yang baik bagimu." Uswatun hasanah ini, Pak, bukan hanya tauladan dalam perkara akhlak dan individu atau berkeluarga saja, bahkan sampai bernegara sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Kita tidak boleh mencontohkan mengikuti. Kemudian selanjutnya, bahkan itu dijadikan indikator, kalau kita cinta sama Allah, kita harus mengikuti jalannya Rasulullah. Bahkan yang cinta-cinta kepada Allah itu perlu ditanyakan kalau jalan yang kita lakukan bukan jalan Allah, tapi jalan-jalan selain jalan Allah. Selanjutnya firman Allah, "Apa yang datang dari Rasulullah, ikuti. Apa yang dilarang oleh Rasulullah, akan ditinggalkan." Dan Rasulullah pun sudah memberi kabar, "Man 'amila 'amalan laisa 'alaih amruna fa-huwa mardud."

kita dapat berhasil karena sekali lagi, manusia terbatas, kalau wahyu Allah itu pasti benar, pasti mengetahui bahkan apa, nanti jangka panjang sekali akan terjadi diketahui karena itu berupa wahyu dari Allah. Walaupun menurut akal kita bagus, namun di sisi Allah itu tidak akan berbahaya atau tertolak. "Man 'amila 'amalan laisa 'alaih amruna faruddu."

Maka metode dakwah Rasul itu simple, Pak, sebenarnya. Hanya dibagi menjadi tiga metode atau tiga tahap.

Yang pertama adalah marhalah taskib wa takwin. Yang mana metode ini adalah tahap pembinaan dan pembentukan. Bagaimana agar masyarakat ini, agar pengemban dakwah ini, orang-orang yang bisa membina umat, maka terlebih dahulu mereka harus dibina, diberi tsaqafah-tsaqafah Islam, diberi keilmuan-keilmuan Islam agar apa? Agar mereka bisa dibentuk sebagai kader dakwah dan membentuk kerangka gerakan ini yang datang oleh Rasulullah, Pak. Rasulullah ketika berdakwah, As-sabiqul awwalun, sepuluh orang itu, itu Rasulullah berdakwah di rumah Al Arqam bin Abi Arqam. Rasulullah membuat kelompok-kelompok untuk mentransfer tsaqafah Islam, bagaimana Islam itu bisa mengubah kehidupan masyarakat pada saat itu. Dan dari situ, ketika mereka sudah menjadi kader dakwah, lanjut ke metode yang kedua.

Metode yang kedua yaitu marhalah al-tafa'ul, yang mana orang-orang yang sudah dibina ini nanti akan mengajak orang-orang lain untuk gabung di dalam jamaah. Bagaimana orang-orang yang lain yang sudah dibina mengajak yang lain agar ikut dalam perjuangan, sehingga berinteraksi di tengah-tengah masyarakat dan melakukan perjuangan politik. Tapi politiknya bukan politik praktis, lah, ya. Bukan politik untuk mendapatkan kursi, tapi politik di sini adalah ri'ayah syu'unil ummah, bagaimana mengatur urusan umat. Jadi, perkara dakwah, dakwah ketika dia itu ingin bagaimana umat ini diatur dengan Islam, itu namanya dakwah politik di dalam persepsi Islam, bukan persepsi demokrasi.

Nah, sehingga nanti akan muncul thalabul nashr atau meminta pertolongan. Itu di sini dikonsolidasikan oleh Rasulullah ketika Baiat Aqabah yang kedua. Baiat Aqabah kedua, Rasulullah membaiat 72 pemimpin-pemimpin yang ada di Madinah, salah satunya adalah suku Aus dan Khazraj, Sa'ad bin Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz. Dan pada saat itu, Pak, mereka tidak ada yang bisa mendapatkan. Tapi dengan Baiat Aqabah pertama, Baiat Aqabah kedua, mereka bisa berdamai. Sehingga ketika Rasulullah berhasil mendapatkan baiat 72 pemimpin Madinah, Rasulullah menjadi pemimpin pada saat itu. Tapi baru sekelas de jure. Pemimpinnya baru de jure. Kata de facto-nya, de facto-nya ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, disambut oleh masyarakat Madinah dan kepemimpinan diberikan kepada Rasulullah. Jadi, benar, Pak, di sini enggak ada mengangkat senjata, ya, Pak? Enggak perlu senjata disiapkan dulu. Masalah enggak ada yang namanya muqotalah, enggak ada yang namanya kekerasan, enggak ada yang menggerakkan senjata. Kenapa sampai kita mengikuti caranya Rasulullah, Pak? Kenapa Rasulullah mengangkat senjata? Kenapa? Karena kita mengikuti caranya. Kenapa kita mengangkat senjata? Kenapa? Pak, setelah daulah Islamiyah sudah terbentuk, Rasulullah menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Itu baru menggunakan senjata, dan itu ada tahapannya, Pak. Langsung ketika datang di perbatasan, ada diplomasi-diplomasinya. Yang pertama ditawari, mau masuk Islam atau enggak? Kalau enggak, ditawari lagi, mau berada di bawah naungan daulah Islamiyah atau enggak? Kalau enggak, baru di situ didakwahi dengan senjata, yaitu dengan jihad. Apalagi ketika dakwah itu dihalangi, sehingga tidak bisa masuk ke dalam daerah tersebut. Nah, ini yang kita lakukan oleh Rasulullah.

Sehingga munculah marhalah yang ketiga, tahapan yang ketiga, yaitu tatbiq ahkamul Islam, yaitu penerapan-penerapan hukum-hukum Islam. Jadi, di dalam Islam, di dalam politik Islam, kedudukan itu sebenarnya bukan tujuan, tapi kedudukan itu sebagai sarana, sebagai wasilah agar penerapan hukum-hukum Islam ini bisa diterapkan. Jadi tujuannya adalah penerapan hukum-hukum Islam, pelaksanaan Islam secara paripurna, secara paling purna. Prinsip itu tujuannya melalui wasilah kekuasaan, sehingga maka peneguhan di dalam negeri dan mengobarkan dakwah ke luar negeri. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah. Dan ini tiga tahapan lagi. Kita ulangi lagi, tiru polanya. Sudah enggak perlu ada, oh, harus yang boleh berubah apa? Yang boleh berubah adalah uslub dakwah-nya, sarana dakwahnya yang boleh berubah. Contoh berdakwah itu hanya uslub, dan uslub itu boleh berkembang sesuai dengan zaman. Yang boleh adalah metodenya. Metodenya harus sesuai dengan apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Selanjutnya bagaimana aplikasinya? Kalau kita bertemu lagi di sesi selanjutnya. Selalu saya mohon maaf. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat menikmati.

Hai, bagaimana setelah menerima penampakan? Kalau harusnya buah-buah ada yang mau ditanyakan? Hai semuanya. Hai. Bisa diulang yang awal tadi? Paling awal. Jadi, terima kasih. Enggak ya. Oke, biar takutnya saya salah di awal. Jadi, ini dari tiga awal yang dipakai pendakwah-pendakwah. Yang kedua-dua, sedangkan yang kedua-dua sambil menimbulkan yang lain dipersilakan untuk mempersiapkan. Oke, itu enggak apa-apa sampai untuk luar. Nah, kemudian pertanyaan kedua, kalau dalam kita sebagai umat muslim tadi ada kewajiban yang kaitannya dengan ba'iat dengan furu' al-'ain. Nah, kalau misalnya dalam muhadarah atau pilnat, ya, kita muhadarah seorang pemimpin, kemudian pemimpin itu misalnya tidak amanah, tidak sesuai dengan apa yang ekspektasi kita harapkan, dan lain-lainnya. Katanya ini apakah kita perlu usaha dalam hal itu? Dari mungkin ke-kesemari yang dia kemudian dia tidak ada kita mengambil versi mungkin juga yang pakai yang kita anggap sebagai kemarin yang berdua mengatakan video tapi pada Allah. Mungkin dalam itu yang terkait dengan Usmani yang menguasai dua per tiga adanya dunia. Gitu. Mungkin kita mencari Ustaz ya, karena setahu saya Usmani menguasai dua pertiga dunia. Bukan itu mungkin salah satunya adalah menyebabkan agama Islam.

Hai, tapi yang saya tahu itu menunjukkan perang, kemudian ada paca diambil dari situ, kemudian ada hal-hal yang lainnya. Dan kemudian yang saya pernah baca juga di situasi terasa untuk menguasai dunia karena ini menambah pasukannya. Jadi dari itu, itu Hai, Hai, dan kemudian kutuhnya itu tidak dibatalkan karena negara-negara yang tadi itu tidak menjalankan syariat-kutu juga. Artinya sebenarnya kalau kita lihat peruntungannya itu bukan karena tidak mendawahi, tapi karena memang dalam menjalankan syariat sendiri itu masih ini, ya, mungkin penerian saya, Ustaz, masih sebatas suksesnya dia perumahannya saja. Oke, itu ritmos tadi yang tiga itu. Oke, Hai, Hai, Hai, Hai. Yang paling utama adalah dimensi yang ketiga, sedangkan yang ada saat ini adalah di dimensi pertama. Bagaimana kita bisa menjelaskan pakai dimensi ketiga ini, sedangkan kita tidak punya dasar atau fondasi di dimensi pertama? Bagaimana kita bisa menjalankan sistem pemerintah Islam, sistem ekonomi Islam, sedangkan kita sendiri tidak tahu Islam itu apa? Nah, jadi kalau saya mau maaf, kita, saya coba jangan susah, gitu kan. Kenapa usaha-usaha sekarang itu lebih banyak di dimensi satu? Karena mereka coba untuk meyakinkan umat Islam itu jurus seperti apa, gitu kan? Wajibat musyarakah itu bagaimana, gitu kan? Seberapa kalau berbohong, kalau berbohong seperti apa, gitu kan? Kalau misalnya kalau kita di dalam masalah politik dan lain itu, kan, mungkin setelah kita sudah memahami di bagian itu, bagian itu sekarang kuat, baru kita di dalam masalah politik dan lain itu. Mungkin setelah kita sudah memahami di BK1, di BK2 sekarang kuat, baru kita di dalam sekarang politik dan lain, seperti itu.

Oh, boleh tak, boleh, maaf, boleh keluar, boleh, boleh. Yang satu ini atau tidak juga, ya. Jadi yang pertama, memilih pemimpin dengan biar ada dari kalian. Jadi sebenarnya kita kan di dalam teori berpikir kemarin, kita tidak diajak bagaimana kita itu sebenarnya berpikir lain. Berpikir itu sampai ke atas. Jadi kita ketika melihat suatu peristiwa itu, kita tidak hanya melihat ketika peristiwa itu terjadi saja, tapi apa yang mendasari dan apa yang mendasari, apa yang menjadi dasar sehingga peristiwa itu ada. Contoh terkait memilih pemimpin di pilkada. Nah, ini juga sebenarnya yang kita hubungi itu bukan hanya perkara pilkadanya saja atau perkara memilih pemimpinnya saja, tapi apa dasar sehingga pilkada itu ada? Apa yang mendasari atau apa yang menjadi dasar sehingga pemilu itu ada?

Nah, selanjutnya kita pahami. Yang mendasari itu adalah sistem demokrasi. Bahwa itu adalah bagian dari sistem demokrasi untuk memilih suatu pemimpin. Yang mana pemimpin itu dipilih dengan kriterianya bukan yang paling kompeten, tapi yang paling populer. Kan seperti itu. Pemimpin saat ini kan, kalau kita berkaca saat ini, baik kita melihat dengan saat ini. Pemimpin itu dipilih bukan karena kompetennya, tapi karena populernya. Biarpun dia kompetennya luar biasa, tapi kalau suaranya sedikit, dia enggak bisa menang. Sebaliknya, kalau dia enggak punya kompeten, tapi kalau dia punya popularitas, dia punya banyak massa, maka dia bisa terpilih. Betulnya banyak terjadi. Bahkan sampai-sampai ketika dia sudah punya kompeten, dia sudah memiliki banyak massa pun, tapi ketika yang dijalankan itu berindikasi untuk melakukan pergocaran, bahwa apa yang dia bahwa itu akan menimbulkan perubahan dari dalam sistemnya, itu langsung diudeta. Contoh, berarti seperti misalnya di Al-Jazeera, Andegaya, Andegaya, itu pernah di tahun '90-an itu ada partai FIS, partai FIS itu dia berideologi.

Partai FIS itu dia berideologi Islam, jadi dia menerangkan Islam tapi jauh masuk ke demokrasi. Nah, ternyata ketika dia menang 80% dari lawan yang hanya 20%, itu dikudeta. Sehingga muncul waktu itu di kabar Inggris, di kabar Inggris itu muncul, "Perlu perilaku-perilaku yang tidak demokratis untuk menyelamatkan demokrasi." Jadi ketika kita memilih, mimpi keadaan itu sebenarnya bukan kita menghukum mimpi keadaannya saja, tapi sebenarnya atas dasar keadaan itu bisa dilaksanakan, yaitu memilih pemimpin lewat jalur demokrasi. Nah, ini kan sudah salah. Kalau kita berpikir akar dari bawah bahwa kita terlibat dalam aktivitas demokrasi, itu kan sudah salah. Karena demokrasi berbeda dengan sistem Islam. Apalagi ketika kita beraktivitas memilih pemimpin di dalam Islam, nanti ada istilah akad wakalah, akad perwakilan. Jadi ketika kita memilih anggota dewan, kita memilih presiden, kita memilih gubernur, kita pilih itu secara tidak langsung kita akad wakalah kepada yang kita pilih. Kita mewakilkan, apapun yang kalian tetapkan, saya hidup dan setuju. Saya mewakilkan suara saya kepada suara yang ada pilih. Sehingga, Pak, ketika nanti ada keputusan-keputusan yang melanggar syariat Allah, itu juga kalau kita milih dia dan pas dia yang jadi, berarti itu suara kita juga.

Makanya nantinya, Pak, ada di Surah Ar-Rum ayat 31, itu dijelaskan bagaimana orang-orang Nasrani itu menjadikan Ahbarahu wa Ruhbana an Rabbahum min dunillah. Rasulullah itu ketika melihat, ada Adi bin Hatim, ada seorang sahabat yang namanya Adi bin Hatim. Adi bin Hatim ini memakai Al-Ushulif yang besar. Ketika sampai kepada Rasulullah, Rasulullah katakan, "Kita perlu Ahbarahu wa Ruhbana an Rabbahum min dunillah." Mereka orang-orang Nasrani ini menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahibnya itu Tuhan-tuhan selain Allah. Nah, proses ini, orang asal administratif ini, proses biar Allah berbohas, wahidu hamad, "Kami tidak menjadikan pendeta itu sebagai Tuhan, kami tidak menjadikan mereka itu sebagai sesembahan." Lalu Rasulullah, "Bukankah ketika pendeta dan rahib itu membuat suatu aturan yang mana aturan itu ternyata menghalalkan apa yang Allah haramkan dan menghalalkan yang Allah haramkan, engkau ikuti?" Kan seperti itu, kata Rasulullah, "Hilka ibadah tubuh, itulah bentuk pengibadahan." Maka sejarahnya langsung, ketika kita aktif, kita mengikuti aktivitas itu, berarti kita sedang mewakilkan. Sehingga ketika mereka itu sedang melakukan aktivitas-aktivitas membuat suatu hukum yang bertentangan dengan aturan Allah, berarti kita mendirikan anggota-anggota dewan itu, presiden itu, pemimpin-pemimpin itu adalah dan itu adalah pendeta-pendeta atau ahli-ahli tandingan selain daripada Allah. Kita sedang menyamakan kedudukan mereka dengan Allah, berarti kita sekarang langsung melakukan kemusyrikan. Nah, itu sudah terjadi sekarang. Berarti kita bertobat dan tidak mengulanginya lagi, seperti itu, Pak.

Artinya kalau dia menjelaskan itu, Bapak itu terbaik, tapi kan dia bertindak tandingan di bangsa, ya kan? Proses kita sebetulnya sakol saja, artinya Bapak itu terbaik, gitu loh, Pak. Kita bisa salah satu kewajiban kita sebagai memilih komite. Jadi bagaimana kalau rasmi? Golput itu kan pilihan juga, Pak. Memilih untuk tidak memilih. Jadi sebenarnya kita itu bukan tidak memilih, tapi memang kita memilih untuk tidak memilih. Kenapa? Karena pemimpin-pemimpin yang ada, pemimpin-pemimpin yang disajikan, itu belum mau menerapkan sistem Islam. Mereka maunya menjalankan pemerintahan yang ada. Sedangkan pemerintahan yang ada itu kan berarti mereka membuat hukum-hukum selain daripada Allah. Ini udah besar-besar. Nah, kewajiban kita memilih itu berlaku ketika memimpin itu di dalam sistem Islam. Karena kalau di dalam sistem Islam, beda kan nanti tujuan sumber hukumnya. Itu berbeda. Kalau Islam itu kan sumber hukumnya wakil Allah. Nah, kalau selain Islam atau demokrasi, itu sumber hukumnya adalah kemaslahatan. Jadi hal yang maslahat itu diterapkan meskipun itu bertentangan dengan syariat Allah.

tertangan dengan syariah Allah. Ini merupakan keceriaan yang sangat nyata. Bahkan nanti insya Allah akan disampaikan di kota-kota. Itu ada materi yang luar biasa. Demokrasi ini bukan dikatakan haram lagi, tapi dikatakan kufur, karena sistem-sistemnya menandingi dengan asrat-asrat yang Allah buat. Nah, kalau sudah seperti ini, dan ternyata tidak ada pemimpin yang mau mengubah sistem ini, ya lebih baik kita memang tidak memilih. Karena ketika kita memilih, berarti kita sedang akad mewakilkan suara kita kepada mereka, sehingga apa yang mereka perbuat, dosanya mengalir kepada kita. Bentuk konkretnya apa? Bukan berarti ketika kita tidak memilih terus kita diam saja, kan? Bentuk konkretnya kita berusaha berdakwah. Kita berusaha menyadarkan umat dari segala ini, dari segala tingkatan, tingkatan *grassroots*-nya, tingkatan jemaahnya, tingkatan penahannya, bahkan tingkatan atasnya semua kita usahakan mereka bisa sadar. Kenapa? Dengan dakwah. Dakwahnya ini, itu kan kemarin, dakwah yang dimensi yang ketiga, yang artinya ketika kita mau mendakwakan ini, ya kita harus selesai dulu memang ini di sini. Dan pertanyaan saya sekarang, di media itu sudah banyak atau sedikit, Pak, yang menjelaskan di media satu dan dua? Kalau dia apa namanya, sarana sudah banyak, wasilah sudah banyak, artinya tidak ada alasan lagi kita bisa *shortcut* pemahaman itu. Ya, sama sebetulnya dengan materi MPC ini, Pak. Hanya 10 sampai 14 kali pertemuan kita bisa memahami Islam itu secara populasi dalam untuk ikhrohnya. Tinggal bagaimana dengan untuk *korikonya* yang itu memang perlu penjabarannya panjang. Yang dijadikan titik poinnya, Pak, bukan benar nih, ketika kita selesai di sini kita enggak mau mendakwakan ini, ya kewajiban itu tetap ada. Karena ketika kita bersyahadat, kita sudah berakidah Islam. Kalau sudah akhir dari Islam, konsekuensinya adalah kita menerangkan syariat Islam. Itu konsekuensinya. Nah, itu nanti insya Allah kita akan bahas di materi yang terakhir, materi ke-10, insya Allah. Kemudian ini pertanyaan ketiga, yang tentang kekhilafahan Utsmani, ya memang seperti itu. Nanti banyak referensi yang kita baca, biasanya beda penulis itu beda sudut pandang, dan memang banyak yang akan kita temukan fakta-fakta yang terjadi di kekhilafahan Utsmani. Tapi sejarah yang sebesar Utsmani itu masih dikatakan kekhilafahan kenapa? Karena yang pertama pemimpinnya masih satu, dan sekarang kekhilafahan itu yang pertama, kepemimpinan umum bagi seluruh umat muslim. Jadi kepemimpinan itu bukan hanya di Indonesia saja. Terus nanti mereka enggak mau mendakwakan ke Malaysia, mereka enggak mau mendakwakan ke negeri-negeri yang lain. Itu kebetulan kekhilafahan itu namanya sekarang, nih, Pak, di daerah Sumatera kalau enggak salah, itu jatuhnya mereka yang membentuk kekhilafahan sementara. Jadi sudah ada khalifahnya, tapi mereka belum punya wilayah. Jadi kesalahan-kesalahan bentuk kekhilafahan itu kan yang pertama, ada seorang pemimpin yang pemimpinnya umum, pemimpin umat. Kemudian yang kedua, pemimpinnya wilayah. Jadi kalau belum punya wilayah, baru punya masa, itu belum dikatakan sebagai kekhilafahan. Dan yang ketiga, penerapan syariat Islamnya itu secara merata, secara menyeluruh, tidak boleh bertahap. Dan yang keempat, keamanan yang ditampung, keamanan bukan di bawah keamanan segala adilanya. Nah, kekhilafahan terus nanti, pada saat itu, meskipun banyak kezaliman-kezaliman yang dilakukan, kita enggak menafikan. Bahkan kalau kita buka sejarah Abbasiyah, Umayyah sampai Utsmani, itu karena penyeleweng, penyeleweng kezaliman, kezaliman yang dilakukan itu memang banyak. Tapi kezaliman itu tidak mencerminkan kezaliman itu sendiri. Kezaliman itu adalah yang dilakukan oleh kesalahan dirinya sendiri, awal raksu manusianya sendiri, termasuk yang dibalas oleh Utsmani pada saat itu kan. Kezalimannya salah satunya, salah satunya yang membuat mereka... Terima kasih.

kelepasan itu tadi. Dan puncaknya ketika pelan dunia yang pertama memang seperti itu, kan? Jadi, selepas dari fakta-fakta yang ada, kita perlu ingat, fakta itu bukan sebagai sumber hukum. Fakta itu bukan sebagai sumber hukum, tapi fakta adalah objek hukum. Apa yang dilakukan oleh kekhilafahan, kekhilafahan sebelumnya, meskipun ada kemaksiatan, itu bukan sumber hukum, tapi itu adalah objek hukum. Yang artinya, pasti ketika kekhilafahan ini ada, jangan sampai kezaliman itu terjadi kembali. Makanya kan nanti hadis ketika Rasulullah sampaikan lima fase kenabian, itu kan nanti fase yang terakhir itu adalah summatakunu khilafatan 'ala minhajin nubuwwah. Akan datang kekhilafahan yang mengikuti metode kenabian. Artinya apa? Kekhilafahan ini masih murni kembali persis seperti yang dilakukan oleh Rasulullah, bukan yang dilakukan Abbasiyah, bukan yang dilakukan Umayyah, atau yang dilakukan Utsmaniyah. Karena nanti, Pak, bahkan kalau kita baca literasi yang kalau sebagai pembanding, kita bacanya yang lawannya Islam. Mereka mengatakan itu bukan dilakukan, itu adalah monarki, itu adalah kekerajaan. Nah, itu seperti itu. Tapi kalau kita pandang secara definisi kekhilafahan saja, itu masih kekhilafahan, tapi memang ada kezaliman. Maka nanti dikatakan sebagai mulkan, mulkan, mulkan, kekhilafahan, apa namanya, kepemimpinannya diktator, kepemimpinannya menggigit yang kezalim. Nah, nanti kekhilafahan yang terakhir ini mengikuti manhaj kenabian. Bagaimana Rasulullah itu ketika melakukan aktivitas dakwah, aktivitas kepemimpinan dengan seorang khalifah yang akan datang nanti. Nah, itu kan sesuatu yang pasti. Kalau kodrat dan kodrat datangnya khalifah, itu kan berarti sudah kodrat Allah, kan? Tugas kita apa? Tugas kita berjuang. Karena di situ yang kita akan dihisab. Kalau kita hanya menjadi penonton, ya kita bisa menjadi penonton. Bahkan kita bisa dimasukkan dosa investasi karena kita hanya diam. Tapi kalau kita berjuang, kita berusaha, maka kewajiban itu luas, dosa investasi itu bisa gugur, meskipun kewajibannya perlu kenaikan.

Jadi seperti itu, Pak. Oke, oke. Saya mau, maaf, saya tetapkan dengan Utsmani, karena sebenarnya saya pernah sedikit belajar dan kebetulan juga pernah jadi kalau dijawab, tapi perlu saya ingatkan bahwa Utsmani itu kemudian setelah perlu Tuhan, Utsmani itu kan rimpun namanya yang terjadi di pasar ke Turki saat itu adalah bahwa kekhilafahan itu tidak tepat di dunia saat ini. Kenapa? Karena ya dengan perkembangan jahat globalisme segala macam itu sampai kemali, tuh, apa ya, sampai dikonsumsi dulu seperti itu. Tapi terima tampilan saya. Tetapi pada saat itu dan kemudiannya saat itu mungkin juga sebenarnya banyak yang masih banyak orang yang seperti itu karena saya masih menganggap bahwa kekhilafahan itu sesuai dengan kondisi yang masih ini.

Oke. Yang kedua, yang perlu yang mungkin sekarang saya nanti kita buat diskusi lebih lanjut saja. Jadi banyak banget cerita terkait dengan dan sejarah-sejarah itu yang dipilihkan, diterbalikan partnya, dan lain-lain yang lainnya disosialisasikan kemasyarakat, termasuk di Indonesia saat ini, dan itu banyak rapat yang kita tahu sebelumnya. Nah, mungkin yang jadi tanda seriusan kita adalah bagaimana kita diseluruhkan hal itu? Bagaimana kita bisa meyakinkan umat Islam bahwa karena gini, Ustaz, negara istri-istrikan negara khalifah itu kan identik dengan hukum Islam, disunah, posong tangan, dina, gitu, segala macam. Padahal kalau misalnya kita bedah lagi, itu kan itu sama yang tadi Ustaz kira adanya kesulimani Utsmani, betul, tapi manfaatnya banyak banget. Kalau teman-teman jalan-jalan ke Albania atau negara-negara Timur, negara-negara Balkan yang muslim itu, mereka itu justru lebih muslim dari kita sebenarnya. Mereka jauh lebih muslim dari kita, gitu loh. Kan bagaimana ibadah mereka, bersosial sesuai mereka seperti apa? Gitu kan? Dan pada Allah, sayangnya kan, alhamdulillah itu negara paling miskin di Eropa karena negara-negara paling muslim, gitu loh. Tapi karena mereka menjaga kebersihan, itu benar-benar mencerminkan, gitu kan. Nah, tapi karena mereka itu, itu ditekan sama yang orang-orang palsu kan. Hai, mereka enggak di masker dan lebih Eropa, mereka enggak kena, dapat Euro dan lain-lain, akses mereka bisa diblokir. Ya ada perubahan langsung. Jadi mungkin sih saya cari gajosa. Jadi mungkin kita bisa sama-sama.